BARITIM, singkatan dari Barisan Ansor Tanggap Bencana dan Kemanusiaan, adalah salah satu unit tugas khusus dalam struktur GP Ansor dan Banser yang fokus pada penanggulangan bencana, misi kemanusiaan, dan bantuan sosial. Dibentuk untuk menjawab kebutuhan penanganan cepat terhadap berbagai bencana alam maupun sosial, BARITIM telah menjadi ujung tombak kepedulian Ansor dalam ranah kemanusiaan.
Kehadiran BARITIM menjadi sangat vital mengingat Indonesia adalah negara yang rawan bencana, seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, kebakaran, hingga erupsi gunung berapi. Dalam berbagai situasi darurat tersebut, BARITIM hadir membawa bantuan, memberikan pertolongan, serta menjadi bagian dari proses evakuasi dan pemulihan masyarakat terdampak.
Para relawan BARITIM dilatih untuk memiliki kepekaan tinggi, keterampilan teknis, serta ketangguhan fisik dan mental. Mereka dibekali pengetahuan tentang sistem tanggap darurat, manajemen bencana, pertolongan pertama, pemetaan risiko, hingga penanganan pengungsi. Semua itu dipelajari agar mereka siap diterjunkan kapan pun dan ke mana pun.
Berbeda dari unit pengamanan seperti Banser umum, BARITIM bekerja secara khusus dalam hal kemanusiaan. Mereka tidak hanya datang membawa logistik, tetapi juga menghadirkan harapan. Dalam bencana besar, BARITIM turut serta dalam pembentukan posko, dapur umum, distribusi bantuan, hingga pelayanan kesehatan darurat melalui koordinasi dengan dinas atau lembaga-lembaga kemanusiaan lainnya.
Dalam banyak kejadian bencana nasional, seperti gempa di Lombok, tsunami di Palu, banjir di Kalimantan, hingga letusan Semeru, BARITIM terlibat aktif sejak tahap tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana. Semangat yang mereka bawa bukan semata solidaritas, tetapi juga dakwah sosial yang penuh kasih sayang dan empati terhadap sesama manusia.
BARITIM juga menjadi representasi wajah Islam yang peduli dan solutif. Dalam praktiknya, mereka hadir tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang sosial korban. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai GP Ansor dan NU yang menempatkan kemanusiaan di atas segala kepentingan sektoral. Kepedulian mereka adalah cermin dari semangat rahmatan lil alamin.
Selain dalam konteks bencana alam, BARITIM juga aktif dalam kegiatan sosial lain seperti penggalangan darah, distribusi sembako di masa pandemi, program sanitasi lingkungan, hingga penanganan bencana sosial seperti kebakaran dan konflik lokal. Dengan pendekatan ini, BARITIM menjadi penghubung kuat antara organisasi dan masyarakat.
Kesiapsiagaan BARITIM tidak hanya ditopang oleh semangat pengabdian, tetapi juga oleh sistem koordinasi yang kuat. Mereka memiliki jaringan komunikasi hingga ke tingkat desa, yang memungkinkan deteksi cepat dan respon awal terhadap peristiwa bencana. Jaringan ini didukung oleh sinergi dengan Banser, BPBD, TNI-Polri, dan relawan lokal.
BARITIM menjadi bukti bahwa gerakan pemuda Islam bisa berkontribusi bukan hanya dalam pengajian dan ceramah, tetapi juga dalam kerja-kerja nyata yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Kehadiran mereka mempertegas bahwa GP Ansor dan Banser bukan hanya pelindung akidah, tapi juga penjaga perikemanusiaan dan pelayan publik dalam arti luas.
Di tengah berbagai tantangan zaman, BARITIM menjadi inspirasi bahwa solidaritas sosial dan semangat gotong royong masih hidup dalam tubuh pemuda NU. Dengan semangat “Siap Menolong Siapa Saja, Kapan Saja, dan di Mana Saja,” BARITIM terus menjadi pelita di tengah gelapnya bencana, dan pelipur lara bagi mereka yang kehilangan.